Are you ready to sightseeing my blog ?

WELLCOME TO RUTHKT'S BLOG : PLEASE LEAVE YOUR COMMENT,THANK YOU. HAVE A NICE DAY

Budaya Toraja

Budaya Toraja
Rumah Adat & Acara kematian
IndoGlobal Adventure - Toraja, Sulawesi - Indonesia We organize Adventures : Trekking, Birding, Rafting, Diving, Sailing, Fishing and more...

Insurance

Financing

Rabu, 2009 Januari 28

Mulai dari yang Kecil untuk Peroleh yang Besar


by Tung Desem Waringin
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia
The most Powerful People and Ideas in Business 2005

Dalam meningkatkan pemasaran, kita juga bisa menggunakan hukum psikologis "ya kecil" untuk menjadi "ya besar". Maksudnya adalah aktivitas pemasaran yang kita lakukan sebaiknya difokuskan supaya calon konsumen membuat keputusan "ya" terhadap apa yang kita tawarkan meski dari yang kecil terlebih dulu.

Sebab, jika mereka sudah membuat keputusan "ya kecil" akan lebih mudah bagi kita untuk membuat konsumen tersebut akhirnya bisa melakukan "ya besar" atau membeli apa yang kita tawarkan dengan tingkatan yang lebih besar atau lebih tinggi lagi. Saya akan memberikan cerita untuk sedikit menjelaskan "ya kecil" menjadi "ya besar". Alkisah seorang tentara Amerika yang ditangkap tentara China.

Tanpa dipukuli, tanpa disiksa, ternyata tentara ini bisa berbalik arah menjadi prokomunis/sosialis. Apa yang sebenarnya terjadi? Ketika tentara Amerika tersebut ditahan, dia sering bertemu tentara China yang baik, diberi rokok, diberi makanan, dan diajak ngobrol santai.

Suatu waktu, tentara Amerika ini ditanya tentang ketidaksempurnaan Amerika.Tapi kalau dia tidak mau menjawab akan ditinggal pergi dan dalam waktu lama tidak ditemui .Namun ketika bertemu lagi, tentara China ini menjelaskan dengan baik setiap negara pasti ada ketidaksempurnaannya dan meminta tentara Amerika menyebutkan ketidaksempurnaan Amerika.

Akhirnya, tentara Amerika menyebutkan beberapa ketidaksempurnaan negaranya. Selain itu, sang tawanan juga diminta menjawab dan menulis apa keuntungan sosial sistem komunis. Tanpa disadari, sang tentara Amerika bukan saja telah menulis dokumen yang menyerang negaranya sendiri, melainkan juga tulisan yang mempromosikan paham komunisme yang ditulis oleh tentara Amerika.

Bagaimana menggunakan hukum "ya kecil" ini? Funnelling merupakan penggunaan hukum "ya kecil" menciptakan "ya besar". Contohnya, untuk meningkatkan penjualan mobil, kita bisa mendatangkan orang ke pameran mobil terlebih dahulu, mengajak test drive secara gratis.

Kemudian, meminta calon pembeli menyebutkan kelebihan mobil yang dipakai dan kalau perlu memintanya dalam bentuk tulisan yang kemudian menandatanganinya. Setelah itu, jika memintanya untuk membeli mobil tersebut, kemungkinan akan terjadi transaksi akan jauh lebih besar ketimbang langsung diminta untuk membeli.

Jadi yang paling penting adalah berikan calon konsumen kesempatan untuk merasakan terlebih dahulu apa yang ingin Anda tawarkan- tentu berikan kualitas yang terbaik yang Anda miliki. Dengan demikian, calon konsumen itu akan semakin mantap dalam membuat keputusannya. Terus dampingi dan berikan informasi yang mereka butuhkan dan buat mereka merasa puas dengan apa yang Anda tawarkan sejak awal.

Read More......
by Tung Desem Waringin
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia
The most Powerful People and Ideas in Business 2005

Dalam meningkatkan pemasaran, kita juga bisa menggunakan hukum psikologis "ya kecil" untuk menjadi "ya besar". Maksudnya adalah aktivitas pemasaran yang kita lakukan sebaiknya difokuskan supaya calon konsumen membuat keputusan "ya" terhadap apa yang kita tawarkan meski dari yang kecil terlebih dulu.

Sebab, jika mereka sudah membuat keputusan "ya kecil" akan lebih mudah bagi kita untuk membuat konsumen tersebut akhirnya bisa melakukan "ya besar" atau membeli apa yang kita tawarkan dengan tingkatan yang lebih besar atau lebih tinggi lagi. Saya akan memberikan cerita untuk sedikit menjelaskan "ya kecil" menjadi "ya besar". Alkisah seorang tentara Amerika yang ditangkap tentara China.

Tanpa dipukuli, tanpa disiksa, ternyata tentara ini bisa berbalik arah menjadi prokomunis/sosialis. Apa yang sebenarnya terjadi? Ketika tentara Amerika tersebut ditahan, dia sering bertemu tentara China yang baik, diberi rokok, diberi makanan, dan diajak ngobrol santai.

Suatu waktu, tentara Amerika ini ditanya tentang ketidaksempurnaan Amerika.Tapi kalau dia tidak mau menjawab akan ditinggal pergi dan dalam waktu lama tidak ditemui .Namun ketika bertemu lagi, tentara China ini menjelaskan dengan baik setiap negara pasti ada ketidaksempurnaannya dan meminta tentara Amerika menyebutkan ketidaksempurnaan Amerika.

Akhirnya, tentara Amerika menyebutkan beberapa ketidaksempurnaan negaranya. Selain itu, sang tawanan juga diminta menjawab dan menulis apa keuntungan sosial sistem komunis. Tanpa disadari, sang tentara Amerika bukan saja telah menulis dokumen yang menyerang negaranya sendiri, melainkan juga tulisan yang mempromosikan paham komunisme yang ditulis oleh tentara Amerika.

Bagaimana menggunakan hukum "ya kecil" ini? Funnelling merupakan penggunaan hukum "ya kecil" menciptakan "ya besar". Contohnya, untuk meningkatkan penjualan mobil, kita bisa mendatangkan orang ke pameran mobil terlebih dahulu, mengajak test drive secara gratis.

Kemudian, meminta calon pembeli menyebutkan kelebihan mobil yang dipakai dan kalau perlu memintanya dalam bentuk tulisan yang kemudian menandatanganinya. Setelah itu, jika memintanya untuk membeli mobil tersebut, kemungkinan akan terjadi transaksi akan jauh lebih besar ketimbang langsung diminta untuk membeli.

Jadi yang paling penting adalah berikan calon konsumen kesempatan untuk merasakan terlebih dahulu apa yang ingin Anda tawarkan- tentu berikan kualitas yang terbaik yang Anda miliki. Dengan demikian, calon konsumen itu akan semakin mantap dalam membuat keputusannya. Terus dampingi dan berikan informasi yang mereka butuhkan dan buat mereka merasa puas dengan apa yang Anda tawarkan sejak awal.

Strategi Memanfaatkan Fluktuasi Pasar


by tim bei//mbs

Harga minyak terus mengalami kenaikan. Bersamaan dengan itu hampir seluruh bursa di dunia mengalami penurunan, pasar dilanda bearish yang belum juga berakhir. Kenaikan harga komoditas turut juga memicu kekhawatiran dalam jangka pendek yang dapat mengganggu operasional perusahaan-perusahaan go public. Dan tak pelak lagi, pelaku pasar modal di seantero dunia sepakat bahwa kenaikan harga minyak itu dapat mengganggu kinerja perusahaan, mulai dari kenaikan biaya produksi, hingga ketidakmampuan konsumen menyerap jasa dan produk yang ditawarkan. Ekspektasi investor saham benar-benar negatif.

Di Indonesia, kecemasan serupa juga tampak terjadi. Indeks harga saham gabungan BEI terus turun. Sepekan lalu harga minyak kembali mengalami kenaikan hingga USD140 per barrel. Naiknya harga minyak itu kembali menjadi sentimen negatif bagi kinerja bursa. Pasar saham dunia kembali mengalami koreksi harga, tak terkecuali dengan aktivitas transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), kendati dengan penurunan tidak setajam di Wall Street dan bursa regional lainnya.

Meski pasar dilanda kecemasan harga minyak, namun investor tampak tetap melanjutkan investasinya di pasar saham. Kendati pasar terus turun, namun nilai dan volume transaksi tak ada yang berubah. Kalau pun berubah tidak begitu signifikan. Nilai transaksi berada pada angka Rp5 hingga Rp7 triliunan, dengan volume saham yang berpindahtangan tetap pada angka yang tak jauh berbeda ketika kondisi pasar normal.

Heran? Tentu tidak. Sebab berinvestasi di pasar saham memang berbeda dengan investasi di sektor lainnya. Kalau pada sektor lain, atau sektor riil, investasi dipastikan akan bisa mencetak untung apabila pasar tersebut tengah bullish. Contoh sederhananya adalah pasar properti, begitu pasar tengah booming (bullish istilah pasar modalnya) maka para pemodal yang menginvestasikan dananya di bidang properti; rumah, tanah, gedung dan sebagainya akan bisa mendapatkan keuntungan. Namun begitu pasar tengah turun, jangan harap properti itu bisa dengan cepat laku terjual.

Di bursa saham kondisinya tidak begitu. Ketika pasar bullish (pasar mengalami kenaikan) maupun pasar dalam kondisi bearish (mengalami penurunan/atau crash sekalipun) pemodal saham tetap berpeluang memperoleh keuntungan. Investor di pasar modal selalu memiliki strategi-strategi khusus dalam mengoptimalkan investasinya di bursa saham ini. Ibaratnya ada seribu satu strategi dan kiat yang bisa diterapkan guna membukukan keuntungan di pasar saham.

Strategi yang diterapkan tentunya tidak sama pada masing-masing investor dan manajer investasi ketika pasar tengah berlangsung. Yang membedakan pola dari masing-masing investor dalam menentukan strategi investasinya di pasar modal akan sangat tergantung pada maksud dan tujuan masing-masing investor saham tersebut. Ada investor yang melakukan investasi saham dengan cara setelah membeli kemudian ia menyimpannya hingga waktu yang lama, tapi ada pula yang berinvestasi saham untuk kepentingan transaksi. Jadi dengan aktivitas transaksi tersebut ia berharap membukukan pendapatan. Tentunya bagi investor yang membeli saham kemudian menyimpannya untuk waktu yang panjang, sudah barang tentu kondisi pasar yang turun pada akhir-akhir ini, karena masalah global sama sekali tidak ada masalah, tidak merasa khawatir dan tak perlu merasa cemas. Terlebih bagi mereka yang meyakini bahwa kondisi harga minyak, resesi ekonomi dan sebagainya sifatnya tidak permanen (hanya sementara saja). Tapi bagi investor yang berinvestasi saham dengan tujuan aktif melakukan transaksi, tentunya penurunan dan kenaikan pasar akan diikuti dengan aktivitas transaksinya. Dengan kata lain apabila terus melakukan transaksi ia merasa yakin bisa membukukan pundi-pundi uang guna meningkatkan investasi dan keuntungan.

Proses Average down

Average down merupakan salah satu istilah teknis dalam investasi di pasar modal. Average down ini secara sederhana dapat diartikan sebagai rata-rata penurunan, atau menurunkan rata-rata. Dalam konteks pasar modal average down ini merupakan sebuah proses investasi (pembelian) saham yang dilakukan investor terhadap saham ketika harga saham yang akan dibeli mengalami penurunan. Tujuan melakukan average down ini tidak lain adalah untuk mempertahankan dan memaksimalkan nilai dari portofolio yang dibuat investor. Diasumsikan suatu saat investor ingin menempatkan 1000 lembar saham xyz pada portofolionya. Lalu ia membeli saham tersebut dengan harga Rp1.000 per lembar sehingga dana yang dikeluarkan sebanyak Rp1 juta.

Beberapa hari berselang, saham tersebut mengalami penurunan menjadi Rp 500 per lembar. Berarti nilai portofolio investor tersebut atas saham xyz telah mengalami penurunan menjadi Rp 500 ribu saja. Karenanya agar nilai saham xyz tetap sama (nilainya bertahan dalam portofolio) investor tersebut kemudian membeli kembali sebanyak 1000 lembar lagi pada harga Rp 500 yang berarti ia mengeluarkan dana Rp 500 ribu lagi. Dari sisi nilai dana yang telah ditanamkan berarti ada untuk mempertahankan agar nilai saham xyz tetap pada posisi Rp 1 juta, investor telah mengeluarkan dana sebanyak Rp 1,5 juta, namun dengan jumlah saham yang porsinya kini menjadi 2000 lembar. Kalau dikemudian hari harga saham xyz mengalami kenaikan kembali menjadi Rp 1.000 per lembar, berarti investor tersebut berhasil mendapatkan keuntungan yang baik. Yakni 2000 lembar saham dikalikan Rp 1000 menjadi Rp 2 juta. Nilai Rp 2 juta ini dikurangi oleh modal yang dikeluarkan yakni Rp 1,5 juta sehingga terdapat keuntungan sebesar Rp 500 ribu.

Terkait dengan average down ini, investor juga bisa melakukan transaksi baik terhadap satu saham saja maupun terhadap beberapa saham dalam portofolio. Yang patut diperhatikan dalam membeli saham secara rata-rata penurunan (average down) ini adalah adanya keyakinan bahwa harga saham atau pasar tersebut memang tengah benar-benar mengalami trend turun. Untuk itu investor yang akan menerapkan strategi average down ini perlu memantau dan memiliki pengetahuan yang tinggi atas saham-saham yang strategi investasinya dilakukan secara average down ini. Ada beberapa faktor yang perlu diketahui sebelum mengambil strategi average down ini, pertama adalah perlu diketahuinya kinerja saham. Apakah saham tersebut sudah undervalue atau overvalue. Untuk mengetahuinya tidak ada jalan lain yang dilakukan investor selain mempelajari perusahaan tersebut melalui laporan keuangan, serta seluruh past performa dari kinerja harga saham emiten itu (historical data).

Kedua, yang juga harus diketahui adalah tentang karakteristik saham tersebut masuk kategori saham pertumbuhan, saham cyclical atau bersiklus (saham yang mengikuti perkembangan ekonomi dan kondisi pasar), saham recovery (saham pertumbuhan) atau saham spekulasi (speculative stock). Faktor-faktor tersebut merupakan aturan dasar yang harus diketahui investor sebelum melakukan transaksi atau investasi di pasar modal. Dan ketiga, yang juga tidak kalah penting yang harus diketahui investor agar penerapan average down ini bisa berhasil adalah sikap optimis dan sabar dalam berinvestasi. Sebab dalam investasi pasar modal sebuah strategi tidak akan menjamin keberhasilan investasi secara terus menerus. Sebab kalau satu strategi bisa berhasil secara terus menerus sudah barang tentu seluruh orang akan mengadopsinya. Itu artinya orang lain juga akan menggunakan, sehingga strategi yang asli akan tergerogoti. Kalau hal itu terjadi maka bersiaplah atas strategi yang lain, misalnya menerapkan startegi saham berpindah, atau menggunakan strategi membeli saham kemudian menyimpan, serta banyak lagi strategi yang bisa dilakukan. Karena itu guna menghindari kerugian dan kesalahan dalam memprediksi harga saham, maupun pasar secara umum, investor perlu melakukan konsultasi dengan broker atau para analis saham.

Read More......
by tim bei//mbs

Harga minyak terus mengalami kenaikan. Bersamaan dengan itu hampir seluruh bursa di dunia mengalami penurunan, pasar dilanda bearish yang belum juga berakhir. Kenaikan harga komoditas turut juga memicu kekhawatiran dalam jangka pendek yang dapat mengganggu operasional perusahaan-perusahaan go public. Dan tak pelak lagi, pelaku pasar modal di seantero dunia sepakat bahwa kenaikan harga minyak itu dapat mengganggu kinerja perusahaan, mulai dari kenaikan biaya produksi, hingga ketidakmampuan konsumen menyerap jasa dan produk yang ditawarkan. Ekspektasi investor saham benar-benar negatif.

Di Indonesia, kecemasan serupa juga tampak terjadi. Indeks harga saham gabungan BEI terus turun. Sepekan lalu harga minyak kembali mengalami kenaikan hingga USD140 per barrel. Naiknya harga minyak itu kembali menjadi sentimen negatif bagi kinerja bursa. Pasar saham dunia kembali mengalami koreksi harga, tak terkecuali dengan aktivitas transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), kendati dengan penurunan tidak setajam di Wall Street dan bursa regional lainnya.

Meski pasar dilanda kecemasan harga minyak, namun investor tampak tetap melanjutkan investasinya di pasar saham. Kendati pasar terus turun, namun nilai dan volume transaksi tak ada yang berubah. Kalau pun berubah tidak begitu signifikan. Nilai transaksi berada pada angka Rp5 hingga Rp7 triliunan, dengan volume saham yang berpindahtangan tetap pada angka yang tak jauh berbeda ketika kondisi pasar normal.

Heran? Tentu tidak. Sebab berinvestasi di pasar saham memang berbeda dengan investasi di sektor lainnya. Kalau pada sektor lain, atau sektor riil, investasi dipastikan akan bisa mencetak untung apabila pasar tersebut tengah bullish. Contoh sederhananya adalah pasar properti, begitu pasar tengah booming (bullish istilah pasar modalnya) maka para pemodal yang menginvestasikan dananya di bidang properti; rumah, tanah, gedung dan sebagainya akan bisa mendapatkan keuntungan. Namun begitu pasar tengah turun, jangan harap properti itu bisa dengan cepat laku terjual.

Di bursa saham kondisinya tidak begitu. Ketika pasar bullish (pasar mengalami kenaikan) maupun pasar dalam kondisi bearish (mengalami penurunan/atau crash sekalipun) pemodal saham tetap berpeluang memperoleh keuntungan. Investor di pasar modal selalu memiliki strategi-strategi khusus dalam mengoptimalkan investasinya di bursa saham ini. Ibaratnya ada seribu satu strategi dan kiat yang bisa diterapkan guna membukukan keuntungan di pasar saham.

Strategi yang diterapkan tentunya tidak sama pada masing-masing investor dan manajer investasi ketika pasar tengah berlangsung. Yang membedakan pola dari masing-masing investor dalam menentukan strategi investasinya di pasar modal akan sangat tergantung pada maksud dan tujuan masing-masing investor saham tersebut. Ada investor yang melakukan investasi saham dengan cara setelah membeli kemudian ia menyimpannya hingga waktu yang lama, tapi ada pula yang berinvestasi saham untuk kepentingan transaksi. Jadi dengan aktivitas transaksi tersebut ia berharap membukukan pendapatan. Tentunya bagi investor yang membeli saham kemudian menyimpannya untuk waktu yang panjang, sudah barang tentu kondisi pasar yang turun pada akhir-akhir ini, karena masalah global sama sekali tidak ada masalah, tidak merasa khawatir dan tak perlu merasa cemas. Terlebih bagi mereka yang meyakini bahwa kondisi harga minyak, resesi ekonomi dan sebagainya sifatnya tidak permanen (hanya sementara saja). Tapi bagi investor yang berinvestasi saham dengan tujuan aktif melakukan transaksi, tentunya penurunan dan kenaikan pasar akan diikuti dengan aktivitas transaksinya. Dengan kata lain apabila terus melakukan transaksi ia merasa yakin bisa membukukan pundi-pundi uang guna meningkatkan investasi dan keuntungan.

Proses Average down

Average down merupakan salah satu istilah teknis dalam investasi di pasar modal. Average down ini secara sederhana dapat diartikan sebagai rata-rata penurunan, atau menurunkan rata-rata. Dalam konteks pasar modal average down ini merupakan sebuah proses investasi (pembelian) saham yang dilakukan investor terhadap saham ketika harga saham yang akan dibeli mengalami penurunan. Tujuan melakukan average down ini tidak lain adalah untuk mempertahankan dan memaksimalkan nilai dari portofolio yang dibuat investor. Diasumsikan suatu saat investor ingin menempatkan 1000 lembar saham xyz pada portofolionya. Lalu ia membeli saham tersebut dengan harga Rp1.000 per lembar sehingga dana yang dikeluarkan sebanyak Rp1 juta.

Beberapa hari berselang, saham tersebut mengalami penurunan menjadi Rp 500 per lembar. Berarti nilai portofolio investor tersebut atas saham xyz telah mengalami penurunan menjadi Rp 500 ribu saja. Karenanya agar nilai saham xyz tetap sama (nilainya bertahan dalam portofolio) investor tersebut kemudian membeli kembali sebanyak 1000 lembar lagi pada harga Rp 500 yang berarti ia mengeluarkan dana Rp 500 ribu lagi. Dari sisi nilai dana yang telah ditanamkan berarti ada untuk mempertahankan agar nilai saham xyz tetap pada posisi Rp 1 juta, investor telah mengeluarkan dana sebanyak Rp 1,5 juta, namun dengan jumlah saham yang porsinya kini menjadi 2000 lembar. Kalau dikemudian hari harga saham xyz mengalami kenaikan kembali menjadi Rp 1.000 per lembar, berarti investor tersebut berhasil mendapatkan keuntungan yang baik. Yakni 2000 lembar saham dikalikan Rp 1000 menjadi Rp 2 juta. Nilai Rp 2 juta ini dikurangi oleh modal yang dikeluarkan yakni Rp 1,5 juta sehingga terdapat keuntungan sebesar Rp 500 ribu.

Terkait dengan average down ini, investor juga bisa melakukan transaksi baik terhadap satu saham saja maupun terhadap beberapa saham dalam portofolio. Yang patut diperhatikan dalam membeli saham secara rata-rata penurunan (average down) ini adalah adanya keyakinan bahwa harga saham atau pasar tersebut memang tengah benar-benar mengalami trend turun. Untuk itu investor yang akan menerapkan strategi average down ini perlu memantau dan memiliki pengetahuan yang tinggi atas saham-saham yang strategi investasinya dilakukan secara average down ini. Ada beberapa faktor yang perlu diketahui sebelum mengambil strategi average down ini, pertama adalah perlu diketahuinya kinerja saham. Apakah saham tersebut sudah undervalue atau overvalue. Untuk mengetahuinya tidak ada jalan lain yang dilakukan investor selain mempelajari perusahaan tersebut melalui laporan keuangan, serta seluruh past performa dari kinerja harga saham emiten itu (historical data).

Kedua, yang juga harus diketahui adalah tentang karakteristik saham tersebut masuk kategori saham pertumbuhan, saham cyclical atau bersiklus (saham yang mengikuti perkembangan ekonomi dan kondisi pasar), saham recovery (saham pertumbuhan) atau saham spekulasi (speculative stock). Faktor-faktor tersebut merupakan aturan dasar yang harus diketahui investor sebelum melakukan transaksi atau investasi di pasar modal. Dan ketiga, yang juga tidak kalah penting yang harus diketahui investor agar penerapan average down ini bisa berhasil adalah sikap optimis dan sabar dalam berinvestasi. Sebab dalam investasi pasar modal sebuah strategi tidak akan menjamin keberhasilan investasi secara terus menerus. Sebab kalau satu strategi bisa berhasil secara terus menerus sudah barang tentu seluruh orang akan mengadopsinya. Itu artinya orang lain juga akan menggunakan, sehingga strategi yang asli akan tergerogoti. Kalau hal itu terjadi maka bersiaplah atas strategi yang lain, misalnya menerapkan startegi saham berpindah, atau menggunakan strategi membeli saham kemudian menyimpan, serta banyak lagi strategi yang bisa dilakukan. Karena itu guna menghindari kerugian dan kesalahan dalam memprediksi harga saham, maupun pasar secara umum, investor perlu melakukan konsultasi dengan broker atau para analis saham.

Bikin Penasaran, Kiat Sukses Berbisnis


by Mochammad Wahyudi

JAKARTA - Mulailah dengan rasa penasaran, niscaya Anda selangkah lebih dekat menuju "singgasana" kesuksesan.

Begitulah kira-kira provokasi yang diajarkan oleh markerter sekaligus penulis buku "Biang Penasaran" Kafi Kurnia. Menurutnya, penasaran adalah biang dari segala kehidupan. Artinya tanpa ada penasaran, kehidupan ini seakan-akan berhenti seketika.

"The Greatest virtue of man perhaps is curiosity," ucap Kafi saat menularkan virus penasarannya di seminar nasional jurus marketing, yang digelar oleh Radio Trijaya, Jakarta 17 Juli, kemarin.

Penasaran memang adalah kata-kata sihir yang maha sakti. Itu diakui Kafi setelah ia melihat sendiri bukti-buktinya
dalam dunia bisnis yang sudah 20 tahun digelutinya. Tidak hanya dia yang tersadar akan kedahsyatan virus "penasaran".
Tetapi juga para pemasar dan ahli komunikasi juga sering mengandalkan penasaran sebagai umpan yang gurih untuk
memancing perhatian publik.

Dia mencontohkan, bagaimana pada 1980-an celana jeans Calvin Klein (CK)� laris manis bak kacang goreng. Bahkan, konon,
konsumen rela antre berjam-jam didepan sebuah department store hanya demi mendapatkan sepotong celana jeans CK
keluaran terbaru.

Itu karena kejelian CK memakai Aktris Brooke Shield yang saat itu baru 15 tahun sebagai model iklan produknya. Pemilihan Shield, bukan tanpa maksud. Saat itu, mantan istri petenis flamboyan Andre Agassi itu adalah biang penasaran. Karena sebelumnya, Shield menjadi pemeran utama dalam film "The Blue Lagoon".

Dimana ia tampil full naked alias telanjang. Momentum penasaran itu yang ingin terus dijaga CK dengan memotret Shield yang memakai celana jeans super ketat dan dipanggul seorang pria.

Bagi para pengusaha kecil, "penasaran" juga seringkali menjadi cara termurah untuk mempromosikan produk atau jasa
yang mereka jual. Tidak perlu strategi yang rumit. Cukup sedikit imajinasi dan kreatifitas untuk membuat orang
penasaran. Kadang cara-cara mereka sukar dijelaskan secara akademis. Adakalanya mereka juga menabrak aturan dan pakem
yang lazim.

Tidak jarang, cara-cara mereka cukup gila, nyeleneh, ngawur, tetapi sesungguhnya kalau kita pikir-pikir terkadang justru sangat sederhana dan masuk akal.

Di Ubud, Bali, juga ada warung kecil yang menjual nasi campur ala Bali. Warung ini dikenal dengan Warung Ibu Oka. Setiap hari
warung ini buka sekitar pukul 11.00 WITA. Tapi, biasanya jam 30 menit sebelumnya, konsumen telah banyak berdatangan. Uniknya mereka dengan sabar menunggu hingga warung buka. Lalu antara pukul 14.30 WITA hingga jam 15.00 WITA, warung ibu Oka biasanya sudah ludes dan kemudian tutup. Anehnya, ia tidak pernah tergoda untuk membuka lebih pagi atau paling tidak menutup warungnya lebih sore atau bahkan membuka cabang. Padahal jualannya laris luar biasa.

Sikap ibu Oka, yang membatasi kegiatan bisnisnya ini boleh dibilang merupakan sebuah manajemen pemasaran yang unik.
Buktinya setiap hari, selalu saja ada konsumen yang datang, tetapi tidak kebagian, sehingga menjadi penasaran. Kebanyakan konsumen yang tidak kebagian itu akan datang lebih pagi lagi agar kebagian.

Untuk menambah keyakinan Anda agar memiliki rasa penasaran yang tidak terbatas. Kafi kemudian mengutip kalimat Carl
Sagan dan Ann Druyan dalam buku mereka yang berjudul "Shadows of Forgotten Ancestors: A Search for Who We Are".

"Rasa penasaran adalah motivasi yang ampuh untuk memacu manusia untuk melakukan sebuah eksplorasi dan berusaha
menemukan sesuatu. Proses penemuan ini, merupakan bagian dari naluri kita untuk tetap bertahan," pungkasnya.

Read More......
by Mochammad Wahyudi

JAKARTA - Mulailah dengan rasa penasaran, niscaya Anda selangkah lebih dekat menuju "singgasana" kesuksesan.

Begitulah kira-kira provokasi yang diajarkan oleh markerter sekaligus penulis buku "Biang Penasaran" Kafi Kurnia. Menurutnya, penasaran adalah biang dari segala kehidupan. Artinya tanpa ada penasaran, kehidupan ini seakan-akan berhenti seketika.

"The Greatest virtue of man perhaps is curiosity," ucap Kafi saat menularkan virus penasarannya di seminar nasional jurus marketing, yang digelar oleh Radio Trijaya, Jakarta 17 Juli, kemarin.

Penasaran memang adalah kata-kata sihir yang maha sakti. Itu diakui Kafi setelah ia melihat sendiri bukti-buktinya
dalam dunia bisnis yang sudah 20 tahun digelutinya. Tidak hanya dia yang tersadar akan kedahsyatan virus "penasaran".
Tetapi juga para pemasar dan ahli komunikasi juga sering mengandalkan penasaran sebagai umpan yang gurih untuk
memancing perhatian publik.

Dia mencontohkan, bagaimana pada 1980-an celana jeans Calvin Klein (CK)� laris manis bak kacang goreng. Bahkan, konon,
konsumen rela antre berjam-jam didepan sebuah department store hanya demi mendapatkan sepotong celana jeans CK
keluaran terbaru.

Itu karena kejelian CK memakai Aktris Brooke Shield yang saat itu baru 15 tahun sebagai model iklan produknya. Pemilihan Shield, bukan tanpa maksud. Saat itu, mantan istri petenis flamboyan Andre Agassi itu adalah biang penasaran. Karena sebelumnya, Shield menjadi pemeran utama dalam film "The Blue Lagoon".

Dimana ia tampil full naked alias telanjang. Momentum penasaran itu yang ingin terus dijaga CK dengan memotret Shield yang memakai celana jeans super ketat dan dipanggul seorang pria.

Bagi para pengusaha kecil, "penasaran" juga seringkali menjadi cara termurah untuk mempromosikan produk atau jasa
yang mereka jual. Tidak perlu strategi yang rumit. Cukup sedikit imajinasi dan kreatifitas untuk membuat orang
penasaran. Kadang cara-cara mereka sukar dijelaskan secara akademis. Adakalanya mereka juga menabrak aturan dan pakem
yang lazim.

Tidak jarang, cara-cara mereka cukup gila, nyeleneh, ngawur, tetapi sesungguhnya kalau kita pikir-pikir terkadang justru sangat sederhana dan masuk akal.

Di Ubud, Bali, juga ada warung kecil yang menjual nasi campur ala Bali. Warung ini dikenal dengan Warung Ibu Oka. Setiap hari
warung ini buka sekitar pukul 11.00 WITA. Tapi, biasanya jam 30 menit sebelumnya, konsumen telah banyak berdatangan. Uniknya mereka dengan sabar menunggu hingga warung buka. Lalu antara pukul 14.30 WITA hingga jam 15.00 WITA, warung ibu Oka biasanya sudah ludes dan kemudian tutup. Anehnya, ia tidak pernah tergoda untuk membuka lebih pagi atau paling tidak menutup warungnya lebih sore atau bahkan membuka cabang. Padahal jualannya laris luar biasa.

Sikap ibu Oka, yang membatasi kegiatan bisnisnya ini boleh dibilang merupakan sebuah manajemen pemasaran yang unik.
Buktinya setiap hari, selalu saja ada konsumen yang datang, tetapi tidak kebagian, sehingga menjadi penasaran. Kebanyakan konsumen yang tidak kebagian itu akan datang lebih pagi lagi agar kebagian.

Untuk menambah keyakinan Anda agar memiliki rasa penasaran yang tidak terbatas. Kafi kemudian mengutip kalimat Carl
Sagan dan Ann Druyan dalam buku mereka yang berjudul "Shadows of Forgotten Ancestors: A Search for Who We Are".

"Rasa penasaran adalah motivasi yang ampuh untuk memacu manusia untuk melakukan sebuah eksplorasi dan berusaha
menemukan sesuatu. Proses penemuan ini, merupakan bagian dari naluri kita untuk tetap bertahan," pungkasnya.

Kiat Menyiasati Kendala Regulasi


by Trust//rhs

JAKARTA - Kendati dokter asing dilarang berpraktik di sini, tapi hal itu tak menghalangi para sinse dari China berkiprah di negeri ini. Nyatanya, keberadaan klinik tradisional asal "Negeri Leluhur" makin menjamur saja. Bagaimana kiatnya?

Tren pengobatan China di negeri ini cenderung makin marak. Selain populasi kliniknya terus meningkat, kita juga mulai akrab dengan sejumlah brand nan khas, seperti Tong Ren Tang, Chang Yen Chen, JiSheng Cancer Centre, Fu Shaw Tang, dan Matahari Traditional Chinese Medical Center. Semua itu, adalah nama-nama kondang rumah pengobatan tradisional asal "Negeri Leluhur" yang mulai meramaikan pasar di sini.

Menariknya pula, kalangan peminatnya makin meluas. Selain masyarakat Tionghoa, juga banyak kalangan eksekutif (non-keturunan) yang mulai meminati kehadiran mereka. Lihat saja sebarannya. Dulu, toko-toko obat China dan rumah sinse hanya ada di kawasan peChinan. Tapi kini, juga mulai jamak terlihat di kawasan bisnis modern. Di Jakarta misalnya, selain di kawasan Kota, klinik China juga bisa ditemui di Kelapa Gading, Kuningan, dan Menteng.

Klinik-klinik di kawasan elite itu, bisa dipastikan, menyasar segmen dari kalangan atas berduit. Terobosan tergolong berani. Maklum, berada di sana, juga berarti harus menghadapi kekuatan rumah sakit modern yang sudah lebih dulu mengakar dengan pasar di sini. Belum lagi harus bertempur dengan sesama klinik China lainnya.

Oleh sebab itu, sebagai pendatang baru, seyogianya mereka harus memiliki strategi tersendiri agar bisa diterima pasar. Di antaranya, gencar beriklan di berbagai media massa. Selain itu, kiat yang tengah dikembangkan oleh JiSheng Cancer Centre of Traditional Chinese Medicine Indonesia, patut disimak. Agar tak serta-merta tergusur oleh kekuatan rumah sakit modern, klinik yang bercokol di pusat bisnis Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini memosisikan dirinya sebagai rumah pengobatan alternatif.

Upayanya itu, tampaknya berhasil. Sejak mulai beroperasi empat tahun lalu, menurut Hermanto Wijaya, Presiden Direktur JiSheng Cancer Centre, pihaknya memang banyak menangani pasien yang putus asa karena mengidap kanker dan tumor kritis. Uniknya, "Mereka datang ke klinik kami karena dirujuk oleh tim dokter yang pernah menanganinya," kata Hermanto. Kendati hanya sebagai "rumah" rujukan, setidaknya mereka bisa membuktikan bahwa metodenya tergolong manjur.

Sebenarnya pula, bila menilik "isi perutnya", semisal klinik tradisional sekaliber JiSheng, ternyata tak kuno-kuno amat. Lihat saja peralatan pengobatan yang ada di sana, bahkan tak kalah modern ketimbang peralatan medis yang dimiliki rumah sakit swasta paling mutakhir. Selain laboratorium dengan peralatan nan lengkap, klinik ini juga dilengkapi sejumlah peranti lain berteknologi canggih. Mulai dari unit USG, CT Scan, Sinar X, electronic chemistry therapy, hingga alat terapi yang memanfaatkan gelombang mikro dan sinar gamma.

Modalnya Relatif Tak Mahal
Untuk semua itu, menurut Hermanto, modalnya minimal Rp300 juta. Relatif tak mahal, lantaran sebagian besar peralatan diimpor dari China. Keuntungan lainnya, berkat bantuan berbagai teknologi itu, memungkinkan klinik ini seminimal mungkin melakukan tindakan pembedahan (operasi), metode yang sebenarnya paling didambakan banyak pasien.

Untuk menjalankan semua peralatan canggih itu, sudah barang tentu perlu dukungan tenaga ahli yang memadai. Tentunya pula, tim medik yang sudah teruji kepiawaiannya. "Di setiap klinik JiSheng, setidaknya ada tiga-empat dokter ahli pengobatan China, yang lazim disebut sinse," ujar Hermanto. Kebanyakan dari mereka memang tergolong sinse berpengalaman yang didatangkan langsung dari China. Agar pengobatannya optimal, "Setiap sinse dibatasi menangani paling banyak 15 pasien per hari," imbuhnya.

Membatasi kunjungan pasien bukan berarti menekan pendapatan. Sebagai penyeimbang, pengelola JiSheng menyiasatinya lewat kebijakan tarif. Nyatanya, ongkos berobat di klinik ini cukup tinggi, yakni hanya untuk sekali berkonsultasi atau terapi setiap pasiennya akan dikenakan minimal Rp500 ribu. Harga obat yang ditawarkannya pun terbilang mahal, sebutirnya ada yang dibanderol Rp50 ribu.

Dengan begitu, klinik ini tak membuka peluang bagi kalangan tak mampu? Tidak juga. Buat mereka, pengelola JiSheng memberlakukan kebijakan tersendiri, di antaranya tarif khusus yang bisa dijangkau.
Berkat berbagai kiat yang dijalankannya, bisa dibilang, perjalanan JiSheng di ranah Nusantara tergolong sukses. Malah mampu berkembang. Awalnya hanya di Surabaya, kini bertambah hingga 13 cabang yang berserak di sejumlah kota besar, antara lain, Makassar, Jakarta, Medan, Banten, Surakarta, Pontianak, dan Semarang. Pada Agustus nanti, rencananya klinik ke-15 yang di Bandung mulai dioperasikan.

Sebenarnya pula, memulai usaha klinik tradisional China di negeri ini, tidak semudah dibayangkan banyak kalangan. Kendala utamanya bermuara pada regulasinya. Salah satunya menyangkut izin bagi dokter asing, sampai saat ini pemerintah masih melarang mereka membuka praktik di sini. Kalaupun ada sejumlah dokter asing yang membuka praktik di sini, menurut Fachmi Idris, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), jelas itu ilegal. Karena itu, "Sudah seharusnya pemerintah menindak mereka dengan tegas," katanya.

Lalu, bagaimana pula halnya dengan para sinse dari China--notabene juga bisa digolongkan sebagai ahli medik alias dokter? Untuk menyiasati masalah ini, para pengelola JiSheng punya cara unik. Kiatnya, di antaranya, dengan menggandeng mitra dokter ahli dari Indonesia. Seperti klinik yang di Kelapa Gading, sebenarnya izin praktiknya atas nama dr Bertha Herlina, MD, tak lain pemilik Klinik ProVitalitas. Akan halnya para sinse yang ada di sana, sesungguhnya bukan dokter, melainkan konsultan kesehatan.

Strategi yang agak berbeda diterapkan oleh Tong Ren Tang. Untuk memudahkan penetrasi pasarnya, klinik pengobatan China yang berdomisili di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ini cenderung lebih mengandalkan nama besar brand-nya. Menurut Zhu Yu, Business Development Manager Tong Ren Tang, metode pengobatan yang berhasil dikembangkan di klinik ini sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Di negara asalnya, Tong Ren Tang yang telah berdiri sejak 1669, kesohor sebagai rumah obat kepercayaan Kaisar Yongzheng (Dinasti Qing). Sampai saat ini, Tong Ren Tang telah merebak di 20 negara, di antaranya di Indonesia (sejak Juni 2004).

Metode pengobatannya, sebenarnya, tak ubahnya dengan model ala Barat. Setiap pasiennya akan didiagnosis terlebih dahulu. Setelah itu, terapi baru dilakukan, di antaranya dengan cara akupunktur atau tuina (pijat untuk pengobatan) serta pengobatan berdasarkan resep.
Kalangan peminatnya tergolong beragam, alias tak hanya dari warga keturunan. Mereka, kata Zhu, umumnya para pengidap stroke, infertility (mandul), kista, tumor, gangguan pada ginjal, dan diabetes. Dalam sehari, klinik ini melayani rata-rata 30 pasien. Bila mereka berminat, lantaran tarif berobatnya cukup bersaing. Untuk sekali datang, setiap pasiennya dikenakan biaya sekitar Rp360 ribu.

Read More......
by Trust//rhs

JAKARTA - Kendati dokter asing dilarang berpraktik di sini, tapi hal itu tak menghalangi para sinse dari China berkiprah di negeri ini. Nyatanya, keberadaan klinik tradisional asal "Negeri Leluhur" makin menjamur saja. Bagaimana kiatnya?

Tren pengobatan China di negeri ini cenderung makin marak. Selain populasi kliniknya terus meningkat, kita juga mulai akrab dengan sejumlah brand nan khas, seperti Tong Ren Tang, Chang Yen Chen, JiSheng Cancer Centre, Fu Shaw Tang, dan Matahari Traditional Chinese Medical Center. Semua itu, adalah nama-nama kondang rumah pengobatan tradisional asal "Negeri Leluhur" yang mulai meramaikan pasar di sini.

Menariknya pula, kalangan peminatnya makin meluas. Selain masyarakat Tionghoa, juga banyak kalangan eksekutif (non-keturunan) yang mulai meminati kehadiran mereka. Lihat saja sebarannya. Dulu, toko-toko obat China dan rumah sinse hanya ada di kawasan peChinan. Tapi kini, juga mulai jamak terlihat di kawasan bisnis modern. Di Jakarta misalnya, selain di kawasan Kota, klinik China juga bisa ditemui di Kelapa Gading, Kuningan, dan Menteng.

Klinik-klinik di kawasan elite itu, bisa dipastikan, menyasar segmen dari kalangan atas berduit. Terobosan tergolong berani. Maklum, berada di sana, juga berarti harus menghadapi kekuatan rumah sakit modern yang sudah lebih dulu mengakar dengan pasar di sini. Belum lagi harus bertempur dengan sesama klinik China lainnya.

Oleh sebab itu, sebagai pendatang baru, seyogianya mereka harus memiliki strategi tersendiri agar bisa diterima pasar. Di antaranya, gencar beriklan di berbagai media massa. Selain itu, kiat yang tengah dikembangkan oleh JiSheng Cancer Centre of Traditional Chinese Medicine Indonesia, patut disimak. Agar tak serta-merta tergusur oleh kekuatan rumah sakit modern, klinik yang bercokol di pusat bisnis Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini memosisikan dirinya sebagai rumah pengobatan alternatif.

Upayanya itu, tampaknya berhasil. Sejak mulai beroperasi empat tahun lalu, menurut Hermanto Wijaya, Presiden Direktur JiSheng Cancer Centre, pihaknya memang banyak menangani pasien yang putus asa karena mengidap kanker dan tumor kritis. Uniknya, "Mereka datang ke klinik kami karena dirujuk oleh tim dokter yang pernah menanganinya," kata Hermanto. Kendati hanya sebagai "rumah" rujukan, setidaknya mereka bisa membuktikan bahwa metodenya tergolong manjur.

Sebenarnya pula, bila menilik "isi perutnya", semisal klinik tradisional sekaliber JiSheng, ternyata tak kuno-kuno amat. Lihat saja peralatan pengobatan yang ada di sana, bahkan tak kalah modern ketimbang peralatan medis yang dimiliki rumah sakit swasta paling mutakhir. Selain laboratorium dengan peralatan nan lengkap, klinik ini juga dilengkapi sejumlah peranti lain berteknologi canggih. Mulai dari unit USG, CT Scan, Sinar X, electronic chemistry therapy, hingga alat terapi yang memanfaatkan gelombang mikro dan sinar gamma.

Modalnya Relatif Tak Mahal
Untuk semua itu, menurut Hermanto, modalnya minimal Rp300 juta. Relatif tak mahal, lantaran sebagian besar peralatan diimpor dari China. Keuntungan lainnya, berkat bantuan berbagai teknologi itu, memungkinkan klinik ini seminimal mungkin melakukan tindakan pembedahan (operasi), metode yang sebenarnya paling didambakan banyak pasien.

Untuk menjalankan semua peralatan canggih itu, sudah barang tentu perlu dukungan tenaga ahli yang memadai. Tentunya pula, tim medik yang sudah teruji kepiawaiannya. "Di setiap klinik JiSheng, setidaknya ada tiga-empat dokter ahli pengobatan China, yang lazim disebut sinse," ujar Hermanto. Kebanyakan dari mereka memang tergolong sinse berpengalaman yang didatangkan langsung dari China. Agar pengobatannya optimal, "Setiap sinse dibatasi menangani paling banyak 15 pasien per hari," imbuhnya.

Membatasi kunjungan pasien bukan berarti menekan pendapatan. Sebagai penyeimbang, pengelola JiSheng menyiasatinya lewat kebijakan tarif. Nyatanya, ongkos berobat di klinik ini cukup tinggi, yakni hanya untuk sekali berkonsultasi atau terapi setiap pasiennya akan dikenakan minimal Rp500 ribu. Harga obat yang ditawarkannya pun terbilang mahal, sebutirnya ada yang dibanderol Rp50 ribu.

Dengan begitu, klinik ini tak membuka peluang bagi kalangan tak mampu? Tidak juga. Buat mereka, pengelola JiSheng memberlakukan kebijakan tersendiri, di antaranya tarif khusus yang bisa dijangkau.
Berkat berbagai kiat yang dijalankannya, bisa dibilang, perjalanan JiSheng di ranah Nusantara tergolong sukses. Malah mampu berkembang. Awalnya hanya di Surabaya, kini bertambah hingga 13 cabang yang berserak di sejumlah kota besar, antara lain, Makassar, Jakarta, Medan, Banten, Surakarta, Pontianak, dan Semarang. Pada Agustus nanti, rencananya klinik ke-15 yang di Bandung mulai dioperasikan.

Sebenarnya pula, memulai usaha klinik tradisional China di negeri ini, tidak semudah dibayangkan banyak kalangan. Kendala utamanya bermuara pada regulasinya. Salah satunya menyangkut izin bagi dokter asing, sampai saat ini pemerintah masih melarang mereka membuka praktik di sini. Kalaupun ada sejumlah dokter asing yang membuka praktik di sini, menurut Fachmi Idris, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), jelas itu ilegal. Karena itu, "Sudah seharusnya pemerintah menindak mereka dengan tegas," katanya.

Lalu, bagaimana pula halnya dengan para sinse dari China--notabene juga bisa digolongkan sebagai ahli medik alias dokter? Untuk menyiasati masalah ini, para pengelola JiSheng punya cara unik. Kiatnya, di antaranya, dengan menggandeng mitra dokter ahli dari Indonesia. Seperti klinik yang di Kelapa Gading, sebenarnya izin praktiknya atas nama dr Bertha Herlina, MD, tak lain pemilik Klinik ProVitalitas. Akan halnya para sinse yang ada di sana, sesungguhnya bukan dokter, melainkan konsultan kesehatan.

Strategi yang agak berbeda diterapkan oleh Tong Ren Tang. Untuk memudahkan penetrasi pasarnya, klinik pengobatan China yang berdomisili di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, ini cenderung lebih mengandalkan nama besar brand-nya. Menurut Zhu Yu, Business Development Manager Tong Ren Tang, metode pengobatan yang berhasil dikembangkan di klinik ini sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Di negara asalnya, Tong Ren Tang yang telah berdiri sejak 1669, kesohor sebagai rumah obat kepercayaan Kaisar Yongzheng (Dinasti Qing). Sampai saat ini, Tong Ren Tang telah merebak di 20 negara, di antaranya di Indonesia (sejak Juni 2004).

Metode pengobatannya, sebenarnya, tak ubahnya dengan model ala Barat. Setiap pasiennya akan didiagnosis terlebih dahulu. Setelah itu, terapi baru dilakukan, di antaranya dengan cara akupunktur atau tuina (pijat untuk pengobatan) serta pengobatan berdasarkan resep.
Kalangan peminatnya tergolong beragam, alias tak hanya dari warga keturunan. Mereka, kata Zhu, umumnya para pengidap stroke, infertility (mandul), kista, tumor, gangguan pada ginjal, dan diabetes. Dalam sehari, klinik ini melayani rata-rata 30 pasien. Bila mereka berminat, lantaran tarif berobatnya cukup bersaing. Untuk sekali datang, setiap pasiennya dikenakan biaya sekitar Rp360 ribu.

Bagaimana Menjadi Murah dan Berkualitas (2)


by Inu Machfud R
Research & Consultant Head BMI Research Jakarta

Konsep lean manufacturing sebenarnya adalah konsep yang sederhana, yaitu menerapkan filosofi penjadwalan yang ketat dan produksi dalam batch yang lebih kecil daripada sebelumnya yang memungkinkan biaya produksi lebih murah daripada sebelumnya. Elemen-elemen dalam lean manufacturing ini juga bukan konsep yang revolusioner seperti konsep just in time pada penyimpanan inventory dan pengapalan produk.

Tetapi dalam industri automotif, konsep ini merupakan suatu terobosan setelah konsep Fordism yang telah dianut hampir seabad oleh pabrikan-pabrikan automotif di seluruh dunia, terutama tentu saja pabrikan mobil di Detroit Amerika Serikat. Perbedaan yang menonjol adalah jalur perakitan yang menyusut dari sebelumnya menggunakan 7 jalur (Fordism) menjadi hanya 5 jalur (lean manufacturing). Ternyata dengan efisiensi jalur perakitan seperti ini, selain memangkas ongkos produksi, aktivitas quality control juga dapat dilakukan secara lebih akurat. Produksi dalam batch-batch yang lebih kecil sangat efektif untuk mereduksi lag dalam jalur produksi, karena kekurangan atau over supply dari proses sebelumnya.

Namun lebih daripada itu, menurut Hajime Oba, Chief Executive Organization dari Toyota Amerika di era 2001, jiwa dari lean production yang diterapkan oleh pabrikan-pabrikan Jepang adalah semangat heijunka yang dapat diterjemahkan bebas sebagai semangat standardisasi. Semangat ini memungkinkan para pekerja untuk bekerja dalam suasana yang stabil dan tenang, tidak terpengaruh oleh kondisi psikologis ataupun faktor eksternal lainnya (dalam beberapa hal, mungkin hal ini yang juga menyebabkan orang lain melihat orang Jepang bekerja seperti robot). Bekerja dalam kondisi ini tentu juga memudahkan untuk mengendalikan kualitas pekerjaan.

Hal-hal tersebut yang membuat lean manufacturing ala Toyota dan pabrikan Jepang lainnya seperti Honda ataupun Yamaha menjadi unik. Metode operasi yang diterapkan mereka 'hanya' membutuhkan orang-orang biasa untuk menjalankannya, tetapi melalui metode tersebut mereka melakukannya dengan luar biasa. Hal penting lain yang dilakukan oleh mereka adalah menjaga kualitas dan kontinuitas dari supply inbound dan outbound dari produksi perakitan kendaraan mereka.

Bukan rahasia lagi bahwa pabrik-pabrikan automotif dari Jepang sangat� memperhatikan dan menjaga hubungan mereka dengan suplier. Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap mendapat pasokan komponen dalam kualitas dan kuantitas yang tetap terjaga.

Pertanyaan selanjutnya, berkaitan dengan terbantahkannya anggapan "ada harga ada rupa", selain industri automotif, industri apalagi yang dapat mengadopsi model efisiensi produksi seperti ini? apakah model ini hanya dapat diterapkan pada satu jenis industri saja? pertanyaan-pertanyaan tersebut nantinya dapat dikembangkan dalam kajian-kajian yang lebih mendalam dan menarik, karena model ini sangat potensial untuk menciptakan aksesibilitas yang lebih luas dari konsumen terhadap produk, terutama untuk produk-produk yang dibutuhkan oleh orang banyak tetapi masih memiliki tingkat harga yang relatif tinggi bagi kebanyakan konsumen.

Read More......
by Inu Machfud R
Research & Consultant Head BMI Research Jakarta

Konsep lean manufacturing sebenarnya adalah konsep yang sederhana, yaitu menerapkan filosofi penjadwalan yang ketat dan produksi dalam batch yang lebih kecil daripada sebelumnya yang memungkinkan biaya produksi lebih murah daripada sebelumnya. Elemen-elemen dalam lean manufacturing ini juga bukan konsep yang revolusioner seperti konsep just in time pada penyimpanan inventory dan pengapalan produk.

Tetapi dalam industri automotif, konsep ini merupakan suatu terobosan setelah konsep Fordism yang telah dianut hampir seabad oleh pabrikan-pabrikan automotif di seluruh dunia, terutama tentu saja pabrikan mobil di Detroit Amerika Serikat. Perbedaan yang menonjol adalah jalur perakitan yang menyusut dari sebelumnya menggunakan 7 jalur (Fordism) menjadi hanya 5 jalur (lean manufacturing). Ternyata dengan efisiensi jalur perakitan seperti ini, selain memangkas ongkos produksi, aktivitas quality control juga dapat dilakukan secara lebih akurat. Produksi dalam batch-batch yang lebih kecil sangat efektif untuk mereduksi lag dalam jalur produksi, karena kekurangan atau over supply dari proses sebelumnya.

Namun lebih daripada itu, menurut Hajime Oba, Chief Executive Organization dari Toyota Amerika di era 2001, jiwa dari lean production yang diterapkan oleh pabrikan-pabrikan Jepang adalah semangat heijunka yang dapat diterjemahkan bebas sebagai semangat standardisasi. Semangat ini memungkinkan para pekerja untuk bekerja dalam suasana yang stabil dan tenang, tidak terpengaruh oleh kondisi psikologis ataupun faktor eksternal lainnya (dalam beberapa hal, mungkin hal ini yang juga menyebabkan orang lain melihat orang Jepang bekerja seperti robot). Bekerja dalam kondisi ini tentu juga memudahkan untuk mengendalikan kualitas pekerjaan.

Hal-hal tersebut yang membuat lean manufacturing ala Toyota dan pabrikan Jepang lainnya seperti Honda ataupun Yamaha menjadi unik. Metode operasi yang diterapkan mereka 'hanya' membutuhkan orang-orang biasa untuk menjalankannya, tetapi melalui metode tersebut mereka melakukannya dengan luar biasa. Hal penting lain yang dilakukan oleh mereka adalah menjaga kualitas dan kontinuitas dari supply inbound dan outbound dari produksi perakitan kendaraan mereka.

Bukan rahasia lagi bahwa pabrik-pabrikan automotif dari Jepang sangat� memperhatikan dan menjaga hubungan mereka dengan suplier. Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap mendapat pasokan komponen dalam kualitas dan kuantitas yang tetap terjaga.

Pertanyaan selanjutnya, berkaitan dengan terbantahkannya anggapan "ada harga ada rupa", selain industri automotif, industri apalagi yang dapat mengadopsi model efisiensi produksi seperti ini? apakah model ini hanya dapat diterapkan pada satu jenis industri saja? pertanyaan-pertanyaan tersebut nantinya dapat dikembangkan dalam kajian-kajian yang lebih mendalam dan menarik, karena model ini sangat potensial untuk menciptakan aksesibilitas yang lebih luas dari konsumen terhadap produk, terutama untuk produk-produk yang dibutuhkan oleh orang banyak tetapi masih memiliki tingkat harga yang relatif tinggi bagi kebanyakan konsumen.

Bagaimana Menjadi Murah dan Berkualitas (1)


by Inu Machfud R
Research & Consultant Head BMI Research Jakarta


Pepatah lama mengatakan: "ada harga ada rupa". Apabila mendengar pepatah maka pikiran kita akan merujuk kepada hubungan transaksi antara produsen dan konsumen, dimana untuk setiap barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen pasti terdapat strata kualitas yang pembedanya biasanya ditentukan oleh harga.

Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya kita telah mahfum dan menerima hal ini sebagai kondisi yang wajar, istilahnya sudah taken for granted, bahwa untuk setiap jasa atau produk yang lebih memuaskan atau lebih sophisticated pasti diperlukan biaya produksi yang lebih tinggi pula bila dibandingkan dengan jasa atau produk yang sifatnya biasa-biasa saja.

Namun dalam beberapa tahun belakangan anggapan ini tampaknya sudah mulai dapat dipatahkan. Apa pasal? tidak lain dan tidak bukan dalam 5 tahun terakhir ini konsumen kita dihadapkan pada sebuah fenomena besar: yaitu kendaraan murah (mobil dan sepeda motor). Fenomena tersebut seakan membalik kesadaran konsumen akan pakem "ada harga ada rupa". Bahwa produk yang murah pasti kualitasnya lebih rendah daripada produk yang lebih mahal.

Produk kendaraan atau otomotif menjadi fenomena karena sebelum era "murah", kendaraan merupakan salah satu ikon produk yang harus ditebus dengan harga yang cukup tinggi. Alih-alih untuk mendapatkan kualitas. Kondisi ini diperkuat pada era masuknya sepeda motor China pada awal tahun 2000, di mana harga produk yang murah harus diiringi dengan konsekuensi kekecewaan konsumen karena mutunya sangat buruk.

Namun lihatlah apa yang terjadi saat ini,� pabrikan sepeda motor Jepang menjawab 'tantangan' kebutuhan konsumen akan produk yang murah dan berkualitas dengan meluncurkan produk-produk sepeda motor 'paket hemat' yang pada tahun 2002-2003 dimulai dengan meluncurkan sepeda motor tipe bebek dengan harga antara Rp9 juta s/d Rp10 juta, dibandingkan dengan harga motor bebek yang full spec Rp12,5 juta. Kemudian pabrikan Suzuki meluncurkan tipe sport 125cc (Thunder 125) dengan harga setara sepeda motor bebek full spec. Dan pada tahun 2006-2007 pabrikan Yamaha meluncurkan sepeda motor tipe bebek dan sport yang lengkapi dengan teknologi terbaru dengan harga yang sangat kompetitif.

Fenomena serupa juga terjadi pada produk mobil. Fenomena terbesar yaitu pada saat Toyota dan Daihatsu meluncurkan produk kembar yang diproduksi di pabrik Daihatsu Indonesia: Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Produk tersebut pada awal kemunculannya di tahun 2004 dibanderol antara Rp75 juta s/d Rp95 juta (tergantung tipe dan spesifikasi). Cukup jauh berselisih harga dengan merek lain yang memang didesain khusus untuk mobil penumpang dan menawarkan sejumlah akomodasi kenyamanan kepada penumpangnya.

Dengan berjalannya waktu, terbukti pada produk-produk tersebut ternyata cukup reliable dan memuaskan para penggunanya. Salah satu indikatornya adalah harga jual kembali (resale value) dari kendaraan-kendaraan tersebut yang tetap terjaga. Pertanyaannya kemudian, apakah yang memungkinkan terjadinya fenomena ini? sebenarnya memang banyak faktor yang berpengaruh, seperti kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam industri yang bersangkutan seperti tarif bea masuk, pajak dan lainnya. Namun satu hal yang krusial dan diterapkan secara konsisten oleh pabrikan-pabrikan Jepang, khususnya Toyota (yang saat ini juga memiliki saham mayoritas di pabrikan sepeda motor Yamaha) adalah efisiensi dalam operasional di pabrik-pabrik perakitan mereka, yang dikenal dengan konsep lean manufacturing.

Read More......
by Inu Machfud R
Research & Consultant Head BMI Research Jakarta


Pepatah lama mengatakan: "ada harga ada rupa". Apabila mendengar pepatah maka pikiran kita akan merujuk kepada hubungan transaksi antara produsen dan konsumen, dimana untuk setiap barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen pasti terdapat strata kualitas yang pembedanya biasanya ditentukan oleh harga.

Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya kita telah mahfum dan menerima hal ini sebagai kondisi yang wajar, istilahnya sudah taken for granted, bahwa untuk setiap jasa atau produk yang lebih memuaskan atau lebih sophisticated pasti diperlukan biaya produksi yang lebih tinggi pula bila dibandingkan dengan jasa atau produk yang sifatnya biasa-biasa saja.

Namun dalam beberapa tahun belakangan anggapan ini tampaknya sudah mulai dapat dipatahkan. Apa pasal? tidak lain dan tidak bukan dalam 5 tahun terakhir ini konsumen kita dihadapkan pada sebuah fenomena besar: yaitu kendaraan murah (mobil dan sepeda motor). Fenomena tersebut seakan membalik kesadaran konsumen akan pakem "ada harga ada rupa". Bahwa produk yang murah pasti kualitasnya lebih rendah daripada produk yang lebih mahal.

Produk kendaraan atau otomotif menjadi fenomena karena sebelum era "murah", kendaraan merupakan salah satu ikon produk yang harus ditebus dengan harga yang cukup tinggi. Alih-alih untuk mendapatkan kualitas. Kondisi ini diperkuat pada era masuknya sepeda motor China pada awal tahun 2000, di mana harga produk yang murah harus diiringi dengan konsekuensi kekecewaan konsumen karena mutunya sangat buruk.

Namun lihatlah apa yang terjadi saat ini,� pabrikan sepeda motor Jepang menjawab 'tantangan' kebutuhan konsumen akan produk yang murah dan berkualitas dengan meluncurkan produk-produk sepeda motor 'paket hemat' yang pada tahun 2002-2003 dimulai dengan meluncurkan sepeda motor tipe bebek dengan harga antara Rp9 juta s/d Rp10 juta, dibandingkan dengan harga motor bebek yang full spec Rp12,5 juta. Kemudian pabrikan Suzuki meluncurkan tipe sport 125cc (Thunder 125) dengan harga setara sepeda motor bebek full spec. Dan pada tahun 2006-2007 pabrikan Yamaha meluncurkan sepeda motor tipe bebek dan sport yang lengkapi dengan teknologi terbaru dengan harga yang sangat kompetitif.

Fenomena serupa juga terjadi pada produk mobil. Fenomena terbesar yaitu pada saat Toyota dan Daihatsu meluncurkan produk kembar yang diproduksi di pabrik Daihatsu Indonesia: Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Produk tersebut pada awal kemunculannya di tahun 2004 dibanderol antara Rp75 juta s/d Rp95 juta (tergantung tipe dan spesifikasi). Cukup jauh berselisih harga dengan merek lain yang memang didesain khusus untuk mobil penumpang dan menawarkan sejumlah akomodasi kenyamanan kepada penumpangnya.

Dengan berjalannya waktu, terbukti pada produk-produk tersebut ternyata cukup reliable dan memuaskan para penggunanya. Salah satu indikatornya adalah harga jual kembali (resale value) dari kendaraan-kendaraan tersebut yang tetap terjaga. Pertanyaannya kemudian, apakah yang memungkinkan terjadinya fenomena ini? sebenarnya memang banyak faktor yang berpengaruh, seperti kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam industri yang bersangkutan seperti tarif bea masuk, pajak dan lainnya. Namun satu hal yang krusial dan diterapkan secara konsisten oleh pabrikan-pabrikan Jepang, khususnya Toyota (yang saat ini juga memiliki saham mayoritas di pabrikan sepeda motor Yamaha) adalah efisiensi dalam operasional di pabrik-pabrik perakitan mereka, yang dikenal dengan konsep lean manufacturing.

Memberi Hadiah, tapi Mendapat Untung dari Penjualan Hadiah


by Tung Desem Waringin
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia The most Powerful People and Ideas in Business 2005 (//rhs)

DULU cukup banyak orang yang bertanya kepada saya seperti ini, "Pak, saya ingin meningkatkan pemasaran dengan memberikan hadiah kepada konsumen. Namun saya takut bagaimana kalau saya malah rugi nantinya?"

Mereka bertanya seperti itu karena belum tahu caranya. Jika Anda belum mengetahui cara yang efektif, memberikan hadiah bisa jadi akan merugikan usaha Anda.

Karena itu belajarlah dengan apa yang telah saya praktikkan sendiri dan saya tulis dalam buku Marketing Revolution saya. Karena dengan belajar cara yang tepat, kita bisa tetap memberi hadiah tanpa mengurangi margin, malah mendapat untung dari penjualan hadiah.

Adapun cara yang bisa dilakukan di antaranya sebagai berikut. Carilah hadiah yang mahal/kesannya mahal. Kalau bisa eksklusif dan orang lain tidak mempunyainya. Kemudian diberi syarat, untuk pembelian dalam jumlah tertentu, pembeli boleh membeli hadiah dengan harga murah. (Harga ini lebih murah dari harga normal,tetapi tetap lebih tinggi dari harga beli). Diberi batas waktu.

Contoh:
Kita memberi hadiah malah bisa lebih untung karena hadiah dijual. Contoh: Dulu adik saya waktu SMA jual kaus untuk promosi ke toko-toko emas, banyak yang menolak. Karena margin emas tipis.

Kemudian cara pemasarannya diperbaiki sehingga, kalau beli 10 gram,dapat kaus gratis, tapi bila lima gram bisa dapat kaus gratis cukup bayar Rp2.000 (karena harga kaus jenis tersebut di pasaran saat itu Rp4.000). Saat itu harga kausnya, karena beli di grosir dari pabriknya bisa dapat @ Rp1.700. Satu toko menyambut ide ini.

Akhirnya toko-toko lain ikut pesan kaus dan ramai-ramai dapat untung triple: (1) dari emasnya, (2) dari hadiah kausnya, dan (3) dari pemakaian kaus tersebut karena ketika dipakai, kaus tersebut mempromosikan tokonya. (Jadi, apa yang terjadi ketika orang beli lima gram emas dan menambah Rp2.000 untuk mendapatkan kaosnya? Karena kausnya @ Rp1.700, yang memberi hadiah malah untung Rp300.

Contoh lain:
Pompa bensin Shell pernah memberi program berikut ini. "Bagi setiap pembelian 20 liter boleh membeli mobil-mobilan Ferrari yang terdiri atas 6 varian @ Rp29.500." Tahukah Anda,walaupun mainan mobil Ferrari ini resmi berlogo Ferrari, ternyata made in China.

Apakah berdasarkan ongkos produksi mobil-mobilan ini yang ternyata dari plastik, tapi tetap menarik. Buktinya saya koleksi banyak, berharga lebih dari Rp29.500? Saya yakin tidak. Karena waktu saya di China, mereka bisa menjual bolpoin Mount Blanc aspal (asli tapi palsu) dengan harga setelah dikurskan ke rupiah Rp8.000.

Lantas, karena ada pembatasan sampai tanggal tertentu hadiah mobil-mobilan Ferrari tidak boleh dibeli lagi, berbondongbondong orang membelinya. Sudah bensin semakin laris, untung dobel lagi. Isi bensin untung, jual hadiah juga untung. Anda juga bisa mempraktikkannya sesuai dengan bisnis yang Anda jalankan. Namun, harus terus diukur dan dimonitor serta dikembangkan agar lebih efektif.

Read More......
by Tung Desem Waringin
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia The most Powerful People and Ideas in Business 2005 (//rhs)

DULU cukup banyak orang yang bertanya kepada saya seperti ini, "Pak, saya ingin meningkatkan pemasaran dengan memberikan hadiah kepada konsumen. Namun saya takut bagaimana kalau saya malah rugi nantinya?"

Mereka bertanya seperti itu karena belum tahu caranya. Jika Anda belum mengetahui cara yang efektif, memberikan hadiah bisa jadi akan merugikan usaha Anda.

Karena itu belajarlah dengan apa yang telah saya praktikkan sendiri dan saya tulis dalam buku Marketing Revolution saya. Karena dengan belajar cara yang tepat, kita bisa tetap memberi hadiah tanpa mengurangi margin, malah mendapat untung dari penjualan hadiah.

Adapun cara yang bisa dilakukan di antaranya sebagai berikut. Carilah hadiah yang mahal/kesannya mahal. Kalau bisa eksklusif dan orang lain tidak mempunyainya. Kemudian diberi syarat, untuk pembelian dalam jumlah tertentu, pembeli boleh membeli hadiah dengan harga murah. (Harga ini lebih murah dari harga normal,tetapi tetap lebih tinggi dari harga beli). Diberi batas waktu.

Contoh:
Kita memberi hadiah malah bisa lebih untung karena hadiah dijual. Contoh: Dulu adik saya waktu SMA jual kaus untuk promosi ke toko-toko emas, banyak yang menolak. Karena margin emas tipis.

Kemudian cara pemasarannya diperbaiki sehingga, kalau beli 10 gram,dapat kaus gratis, tapi bila lima gram bisa dapat kaus gratis cukup bayar Rp2.000 (karena harga kaus jenis tersebut di pasaran saat itu Rp4.000). Saat itu harga kausnya, karena beli di grosir dari pabriknya bisa dapat @ Rp1.700. Satu toko menyambut ide ini.

Akhirnya toko-toko lain ikut pesan kaus dan ramai-ramai dapat untung triple: (1) dari emasnya, (2) dari hadiah kausnya, dan (3) dari pemakaian kaus tersebut karena ketika dipakai, kaus tersebut mempromosikan tokonya. (Jadi, apa yang terjadi ketika orang beli lima gram emas dan menambah Rp2.000 untuk mendapatkan kaosnya? Karena kausnya @ Rp1.700, yang memberi hadiah malah untung Rp300.

Contoh lain:
Pompa bensin Shell pernah memberi program berikut ini. "Bagi setiap pembelian 20 liter boleh membeli mobil-mobilan Ferrari yang terdiri atas 6 varian @ Rp29.500." Tahukah Anda,walaupun mainan mobil Ferrari ini resmi berlogo Ferrari, ternyata made in China.

Apakah berdasarkan ongkos produksi mobil-mobilan ini yang ternyata dari plastik, tapi tetap menarik. Buktinya saya koleksi banyak, berharga lebih dari Rp29.500? Saya yakin tidak. Karena waktu saya di China, mereka bisa menjual bolpoin Mount Blanc aspal (asli tapi palsu) dengan harga setelah dikurskan ke rupiah Rp8.000.

Lantas, karena ada pembatasan sampai tanggal tertentu hadiah mobil-mobilan Ferrari tidak boleh dibeli lagi, berbondongbondong orang membelinya. Sudah bensin semakin laris, untung dobel lagi. Isi bensin untung, jual hadiah juga untung. Anda juga bisa mempraktikkannya sesuai dengan bisnis yang Anda jalankan. Namun, harus terus diukur dan dimonitor serta dikembangkan agar lebih efektif.